AKSI NYATA TOPIK 1 MERDEKA BELAJAR

 Surakarta, Agustus 2022

Assalamualikum Wr.Wb.

Alhamdulillah, Alhamdulilahi rabbil ‘alamin, was sholatu wassalamu ‘ala, asyrofil ambiyaa iwal mursalin, wa a’laa alihi wa sahbihi ajmain amma ba’du.

    hari ini kita semua diberikan Kesehatan, dan di beri kesempatan oleh Allah Swt untuk beribadah sekaligus menjalani sebagian dari aktivitas kita, dan masha Allah, dari sekian banyak hamba Allah Swt. yang beraktivitas hari ini, ternyata bapak/ibu dan teman-teman sekalian yang terpilih oleh-Nya untuk bisa Hadir di Blog ini. Semoga kita semua yang hadir diringankan langkahnya, dilembutkan hatinya, dan dipanjangkan umurnya untuk mempelajari sebagian dari tuntunan agama kita.

Salam dan bahagia para pembaca generasi hebat!

Merdeka belajar, Merdeka Mengajar. Kurikulum Merdeka

Boleh belajar boleh tidak ! 

Melanggar aturan sekolah TIDAK dihukum, karena kita MERDEKA BELAJAR!

    Kalimat-kalimat itulah yang sering terdengar diantara obrolah siswa saat mendengar adanya kebijakan baru atau perubahan kurikulum tentang penerapan konsep merdeka belajar di sekolah. Pandangan ini tidak sepenuhnya keliru tetapi BELUM TEPAT.

    Jika menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, merdeka mempunyai makna bebas tidak terikat dan berdiri sendiri atau mandiri. Merdeka belajar mempunyai konsep belajar mandiri, tidak diperintah oleh guru atau orang tua. Siswa belajar secara mandiri karena belajar merupakan kebutuhan masing-masing.

Lalu, apa sebenarnya program Merdeka Belajar?

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan, Merdeka Belajar adalah suatu pendekatan yang dilakukan supaya siswa dan mahasiswa bisa memilih pelajaran yang diminati.

Nadiem Makarim pada 2019 menyebutkan bahwa salah satu hal yang harus diperhatikan dalam Merdeka Belajar adalah kemerdekaan berpikir. Kemerdekaan berpikir menjadi salah satu fondasi dasar dari program Merdeka Belajar. Nadiem juga menyebutkan bahwa kemerdekaan berpikir harus dipraktikkan oleh para guru terlebih dahulu sebelum diajarkan kepada para siswa.

Di samping itu, program Merdeka Belajar juga akan membawa perubahan pada sistem pengajaran yang semula bernuanasa di dalam kelas menjadi di luar kelas. Nuanasa pembelajaran di luar kelas ini diharapkan akan membuat setiap siswa menjadi lebih nyaman karena bisa lebih banyak berdiskusi dan akan membentuk karakter dari para siswa.    

Kurikulum merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi. Guru memiliki keleluasaan untuk memilih berbagai perangkat ajar sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan belajardan minat peserta didik. Projek untuk menguatkan pencapaian profil pelajar Pancasila dikembangkan berdasarkan tema tertentu yang ditetapkan oleh pemerintah. Projek tersebut tidak diarahkan untuk mencapai target capaian pembelajaran tertentu, sehingga tidak terikat pada konten mata pelajaran. Lalu apa saja komponen-komponen dalam kurikulum merdeka?

Ki Hajar Dewantara mengartikan manusia merdeka yaitu manusia yang bersandar pada kekuatan dirinya sendri tidak bergantung kepada orang lain. Berikut beberapa hal penting dalam pemahaman merdeka belajar diantaranya:

  1. Mengenali dan memahami Diri sebagai Pendidik


    Pendidik adalah orang dewasa yang bertanggung jawab memberikan pertolongan kepada anak didik dalam perkembangan baik jasmani maupun rohaninya (Dri Atmaka, 2004). Sementara menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan adalah memberi tuntunan terhadap segala kekuatan kodrat yang dimiliki anak, agar ia mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik sebagai seorang manusia maupun sebagai anggota masyarakat.

    Peran seorang pendidik sesuai Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 Tentang guru dan dosen adalah mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi siswa pada Pendidikan anak usia dini melalui jalur formal Pendidikan dasar dan Pendidikan menengah. Maka, peran pendidik (Guru) tidak lagi sebatas pengajar, tapi selaras dengan konsep Ing ngarso sung tulodo, Ing madyo mangun karsa, dan Tut wuri handayani.

    Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Indonesia yang hidup pada abad 18, pernah menjabat sebagai Menteri Pengajaran Republik Indonesia (1945), bahkan belum tersentuh berbagai teori modern tentang Pendidikan. Namun beliau mampu menempatkan "Tut wuri handayani" menjadi semboyan pendidikan, yang artinya "Dari belakang, seorang guru harus bisa memberikan dorongan pada siswa".

    Selanjutnya, Ing madya mangun karsa, yang artinya ditengah memberi/membangun semangat. Seorang guru harus membersamai siswanya, untuk memantau gerak tumbuh mereka serta membimbing dan memberi semangat. Guru harus terus belajar secara mandiri, membuka akses lebar-lebar dari berbagai sumber informasi, agar relevan dengan kebutuhan siswa sesuai zamannya.

    Semboyan ketiga adalah Ing ngarso sung tulodo, artinya seorang guru harus mampu menjadi teladan bagi siswanya, baik sikap maupun pola pikirnya. Dengan demikian, guru haruslah terlebih dahulu mempersiapkan diri menjadi pribadi yang mampu menjadi sosok panutan, yang akan dicontoh oleh anak didiknya.

    Pertanyaannya, apakah kita sudah mengenali diri dan peran sebagai pendidik?. Jawabannya tergantung pada keberanian kita untuk menjawab secara jujur dengan hati nurani. Siapakah saya di mata siswa, apakah saya diberi predikat sebagai guru yang berempati atau malah cuek?. Apakah saya memberi ruang bagi siswa untuk memunculkan ide dan kreativitas mereka atau malah membungkam dengan ucapan yang memojokkan?. Pernahkah saya memberi kesempatan bagi siswa untuk menjelaskan apa alasan mereka tidak memegang komitmen atau malah mendesak dan menyalahkan?.
( Kompasiana.com , Chrisma Juita Nainggolan)

2. Mendidik dan Mengajar



    Tugas guru dalam sebuah pendidikan sudah diatur dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 14 Tahun 2005  pasal 1 ayat 1 : guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Aspek yang dibangun guru dalam pembelajaran dikelas tidak akan pernah terlepas dari aspek sikap, pengetahuan dan keterampilan, dan ini akan terus menjadi patokan dalam dalam menentukan keberhasilan pembelajaran.

    Untuk dapat mencapai komponen tersebut, guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang kondusif untuk siswa, karena esensi dari sebuah pembelajaran adalah bagaimana membuat siswa belajar tentang banyak hal dan bukan saja tentang materi pelajaran, tapi sikap dan keterampilan. Penulis teringat kepada salah seorang tokoh pendidikan yang sangat terkenal dan juga termasuk pahlawan nasional Indonesia yaitu Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara mengajarkan kita sebuah arti dari pendidikan yang humanis, beliau juga mampu menciptakan konsep Sistem Among sebagi patokan guru dalam mendidik siswaIng ngarso Sung Tolodo, Ing Madyo Mangun Karso dan Tut Wuri Handayani” memiliki arti di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat dan di belakang memberi dorongan.


3. Mendampingi Murid dengan Utuh dan Menyeluruh


    Pemahaman gagasan dan prinsip pendidikan berdasarkan pemikiran Kihajar Dewantara, Pemahaman untuk memfasilitasi Murid agar tumbuh sesuai dengan kodratnya, dan penerapan pembelajaran yang memerdekakan Murid. Tidak ada individu yang sama dan Zaman Selalu bergerak dinamis. Hampir Setiap kita menyadari kedua hal tersebut, menyadari keunikan setiap dan semua murid merupakan suatu Hal. bagaimana penerapan kelas yang memfasilitasi setiap Kodrat individu Merupakan Hal lainya. 

    Agar pendidikan dapat terlaksana dengan baik, maka Filosofi Ki Hajar Dewantara yang menetapkan asas Trikon yaitu; Kontinuitas (Tidak melupakan akar nilai budaya, Konvergeni (Pendidikan harus memanusiakan manusia), dan Konsentris (Pendidikan harus menghargai keberagaman dan memerdekakan murid) harus kita terapkan


4. Mendidik dan Melatih Kecerdasan Budi Pekerti


    Budi pekerti adalah tingkah laku, akhlak, perangai, atau watak (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Sementara menurut Ki Hajar Dewantara, budi pekerti adalah perpaduan antara gerak pikiran, perasaan, dan kehendak atau kemauan sehingga menimbulkan tenaga. Jika diberikan gambaran sederhana, sosok orang yang berbudi pekerti adalah seseorang yang menunjukkan perilaku baik terhadap orang lainnya.

    Seberapa penting budi pekerti ditanamkan pada sanubari anak didik, sehingga kelak akan menjadi manusia-manusia cerdas yang berkepribadian luhur?. Ternyata sangat penting, maka Kemdikbud sendiri telah menetapkan bahwa penerapan budi pekerti harus dimulai dari tingkat PAUD hingga SMA/SMK. Dan jangan lupa, bahwa orang dewasa juga harus membenahi diri dengan akhlak yang baik pula, agar sinkron antara ucapan dan perilaku.

    Ki Hajar Dewantara berpendapat, bahwa budi pekerti adalah perpaduan antara cipta (Kognitif) dan rasa (Afektif) sehingga menghasilkan karsa (Psikomotorik). Budi pekerti merupakan kodrat setiap manusia. Maka sebagai pendidik, perlu memahami kodrat tersebut dan mendampingi tumbuh kembangnya kecakapan budi pekerti anak didik dalam proses pembelajaran.

(Kompasiana.com)


5. Pendidikan yang Mengantarkan Keselamatan dan Kebahagiaan.



    Dalam proses menuntun atau mengembangkan potensi diri siswa, pendidik memberikan kebebasan kepada siswa mengeksplorasi kemampuan dengan bimbingan dan arahan yang tepat dari pendidik agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. Proses ini akan mendorong anak menemukan kemerdekaannya dalam belajar.


Mohon Bapak/Ibu berkenan mengisi formulir dengan klik link di bawah ini sebagai umpan balik dalam kegiatan aksi nyata “Menyebarkan Pemahaman tentang Merdeka Belajar”

https://forms.gle/DJHV6shbaKX681Wa6 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUGAS AKHIR MODUL 3 PEMBELAJARAN INOVATIF